Kanker Serviks

Serviks adalah terowongan yang membuka menuju internal vagina yang menghadap ke eksternal tubuh. Pengertian serviks adalah membran leher berukuran tabung yang mengoneksikan vagina serta rahim. Pengertian serviks datang langsung dari Bahasa Latin yang maknanya “leher”. Pengertian serviks ini kemudian diartikan sebagai “leher rahim”. Serviks adalah penjaga, menentukan apa serta kapan objek hadir serta pergi dari segmen paling vital dari sistem reproduksi. Cervix adalah segmen paling dasar rahim. Di dalam vagina, serviks nampak semacam O berdaging lembut. Oleh sebab posisinya, mengamati serviks adalah tidak mudah. Bagi yang sudah pernah mengamatinya, servik adalah luar biasa.

Pengamatan servik adalah mengenai edukasi guna memerangi rasa malu yang dipunyai mengenai tubuh dan siklus haid.

Sementara, setiap servik adalah berbeda-beda. Serviks terpenting tersusun atas membran fibromuskular.

Terdapat dua segmen penting serviks:

  • Segmen serviks yang nampak dari internal vagina ketika diagnosa ginekologi disebut ektoserviks

  • Endoserviks merupakan suatu kanal melewati servik, dari os eksternal menuju internal rahim

Serviks normal memproduksi cairan servik yang koherensinya berubah sepanjang siklus haid guna menahan atau memacu kehamilan. Serviks normal menyuplai kian banyak lendir guna merencanakan pembuahan. Cervix adalah memuat jalur saraf yang berperan dalam respons seksual. Serviks normal terbuka sepanjang pembuahan guna membiarkan sperma masuk. Sepanjang pembuahan cervix adalah lunak. Penyakit serviks sebenarnya bermacam-macam. Penyakit serviks ini juga termasuk gangguan fungsi serviks.

Salah satu penyakit serviks tersebut adalah kanker serviks. Ca servik adalah tipe kanker yang muncul di sel-sel serviks. Kanker serviks umumnya adalah karsinoma sel skuamosa, yang diakibatkan oleh kontaminasi human papillomavirus; lebih langka itu merupakan adenokarsinoma. Sebagian besar kanker serviks diakibatkan oleh kontaminasi human papillomavirus (HPV). Neoplasma serviks tidak berindikasi. Indikasi awal dari kanker serviks tingkat pertama umumnya merupakan perdarahan vagina yang tidak rutin, kerap kali pasca kopulasi. Pemeriksaan dilakukan dengan uji Papanicolaou (uji Pap) serta biopsi serviks. Fasilitas kesehatan mengambil contoh membran atau biopsi dari serviks guna mendeteksi kanker servik. Pengertian dari fase tersebut merupakan ilmiah. Pengobatan umumnya meliputi reseksi bedah pada fase pertama gangguan atau terapi radiasi dilengkapi kemoterapi bagi gangguan lokal yang kian serius.

Bila mayoritas kanker telah menjalar, kemoterapi umumnya dipakai tunggal. Kanker serviks merupakan kanker ginekologi paling sering ke-3 serta kanker paling sering ke-8 pada perempuan di Amerika Serikat. Umur kebanyakan ketika diperiksa adalah 5 dekade, namun kanker bisa diawali sejak umur 2 dekade. The American Cancer Society menduga bahwa di Amerika Serikat, 13.170 kejadian anyar kanker serviks invasif serta 4.250 mortalitas disebabkan kanker serviks akan berlangsung pada 2019. Kanker serviks berlangsung disebabkan displasia intraepitel serviks, yang sepertinya dikarenakan oleh kontaminasi human papillomavirus (HPV) tipe 16, 18, 31, 33, 35, atau 39.

Sejumlah aspek bahaya kanker serviks di antaranya:

  • Umur belia ketika pertama kali melaksanakan kopulasi

  • Angka partner kopulasi yang banyak sepanjang hayat

  • Merokok

  • Kurang imunitas

Terlepas dari pengalaman pribadi kopulasi, perlu dianggap bahwa perempuan pernah terpapar pada seseorang dengan HPV sebab itu terdapat di manapun.

Gejala

Kanker serviks mula bisa asimtomatik. Bila indikasi betul-betul muncul, umumnya perdarahan vagina tidak rutin, paling umum pasca kopulasi, namun bisa muncul dengan mendadak di antara haid. Kanker yang kian besar mudah berdarah serta bisa mengakibatkan keputihan yang beraroma tidak sedap atau sakit panggul. Kanker yang kian serius bisa mengakibatkan hidronefrosis obstruktif, sakit radiasi posterior serta edema kaki sebab obstruksi vena atau limfatik. Diagnosa panggul bisa mengidentifikasi tumor nekrotik eksofitik di serviks.

Diagnosa

  • Uji Papanicolaou (Uji Pap)

  • Biopsi

  • Pengertian ilmiah dari tingkatan umumnya memakai data dari biopsi, diagnosa panggul dan rontgen dada

Kanker serviks dapat diwaspadai ketika diagnosa panggul teratur. Itu dimunculkan pada perempuan yang datang.

  • Lesi serviks yang nampak

  • Hasil uji Pap tidak normal

  • Perdarahan vagina yang tidak biasa

Pelaporan output sitologi serviks yang diseragamkan (amati tabel Klasifikasi Sitologi Serviks Bethesda). Uji pelengkap diisyaratkan bila sel atipikal atau kanker teridentifikasi, khususnya pada perempuan yang terancam. Bila terdapat ciri-ciri kanker yang nyata, kolposkopi (diagnosa vagina dan serviks di bawah mikroskop pembesaran besar) bisa dipakai guna mendeteksi area yang harus dibiopsi. Biopsi kolposkopi umumnya menguatkan pemeriksaan. Bila tidak, biopsi konisasi dibutuhkan. Contoh membran diambil dengan memakai metode eksisi memakai loop diatermik, laser atau pisau sayat dingin.

Klasifikasi berdasarkan tahapan

Kanker serviks dikelompokkan berdasarkan tingkatan menurut biopsi, diagnosa fisik, serta rontgen dada  (amati tabel Klasifikasi Sitologi Serviks Bethesda). Pada sistem pengelompokan tingkatan International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO), tingkatan tidak meliputi pengetahuan mengenai keadaan kelenjar getah bening. Walaupun tidak dikelompokkan menurut tingkatan, status kelenjar getah bening adalah salah satu elemen prognostik paling berpengaruh pada kanker serviks tingkatan pertama (tingkatan IA1 sampai IB1). Itu penting guna persiapan pemulihan serta memengaruhi area radioterapi. Bila tingkatan > IA2, CT atau MRI abdominopelvis umumnya dilaksanakan guna mendiagnosa metastasis, walaupun hasil yang didapat tidak dipakai guna pengertian tingkatan.

Pemindaian CT umumnya dipakai guna menetapkan apakah kanker servik sudah menjalar, dan bila begitu sejauh mana. Sama dengan pemindaian CT, pemindaian MRI bisa dipakai guna menemukan penjalaran kangker serviks. PET secara CT (PET/CT) paling umum dipakai guna mendiagnosa keberadaan di luar serviks. Pemindaian PET adalah sebuah pengujian guna menemukan penjalaran atau kekumatan kangker serviks. Tiap cakupan kangker serviks mengambil pelacak serta “berpijar” pada citra pemindai. Bila PET/CT, MRI, atau CT tidak ada, sistoskopi, sigmoidoskopi serta urografi IV, jika ditandai dengan ilmiah, bisa dipakai guna penetapan tingkatan.

Maksud dari sistem penetapan tingkatan ini merupakan guna menentukan pengelompokkan pemeriksaan seragam dan sama di seluruh tempat di dunia. Sistem mengeksepsikan hasil dari pengujian yang condong tidak ada dengan universal (contohnya MRI) sebab sebagian besar kejadian kanker serviks muncul di negara dunia ketiga. Sebab pengujian ini tidak dipakai, hasil semisal invasi parameter serta metastasis kelenjar getah bening biasanya tidak tersedia, dan oleh sebab itu menggampangkan tingkatan sepertinya dikerjakan. Saat penginderaan mengidentifikasi adenomegali pelvis atau para-aorta yang substansial (> 2 cm), pemeriksaan bedah, umumnya retroperitoneal, kadang kala disarankan. Maksud utamanya adalah guna reseksi adenomegali jadi radioterapi bisa kian jitu serta kian ampuh.

Pengobatan

  • Eksisi atau radioterapi kuratif, bila tidak terdapat penyebaran ke parameter atau lebih

  • Radioterapi dan kemoterapi bila terdapat penyebaran ke parameter atau lebih

  • Kemoterapi bagi kanker metastatik atau kekumatan

Pengobatan untuk kanker serviks bisa jadi mencakup pembedahan, terapi radiasi serta kemoterapi. Bila histerektomi disarankan namun pasien tidak bisa menanggungnya, terapi radiasi dilengkapi kemoterapi diaplikasikan. Kemoterapi umumnya direkomendasikan bagi kanker servick yang dipastikan sudah menjalar. Bila ca serviks belum menjalar, histerektomi bisa memberikan pengobatan yang sempurna.

Neoplasia intraepitel serviks dan karsinoma sel skuamosa stadium IA1

Pengobatan menyertakan

  • Konisasi atau histerektomi ringan. Kanker serviks mikroinvasif, diartikan sebagai tingkatan FIGO IA1 tanpa invasi limfovaskular, mempunyai ancaman <1% dari metastasis kelenjar getah bening serta bisa diatur dengan tradisional dengan konisasi memakai loop diatermik, laser atau metode reseksi pisau sayat dingin. Konisasi disarankan pada pasien yang mau menjaga fertilitasnya. Histerektomi ringan perlu dilaksanakan bila pasien tidak ingin guna menjaga fertilitas mereka atau bila margin positif pasca konisasi. Pada fase IA1 dengan invasi ruang limfovaskular, konisasi (dengan margin negatif) serta pemetaan panggul laparoskopi dari kelenjar getah bening sentinet yang berhubungan dengan limfadenektomi (diseksi kelenjar getah bening) merupakan pendekatan yang logis.

  • Kemoterapi panggul dan radioterapi kombinasi. Opsi perawatan lain merupakan histerektomi radikal serta limfadenektomi panggul bilateral, kadangkala dengan radioterapi (amati tabel kriteria Sedlis untuk radioterapi panggul eksternal setelah histerektomi radikal). Bila perluasan ekstra-serviks diperiksa sepanjang pembedahan, histerektomi radikal tidak dilaksanakan serta radioterapi setelah pembedahan dengan kemoterapi seiring disarankan untuk meminimalkan ancaman kekumatan total. Pada sejumlah penyintas dengan kanker serviks tingkatan pertama yang mau menjaga fertilitas, trachelectomy radikal bisa dikerjakan. Pendekatan perut, vagina, laparoskopi, atau pertolongan robot bisa dipakai.

Pada metode ini serviks, parameter yang berhubungan langsung dengan serviks, 2 cm bagian atas vagina dan kelenjar getah bening panggul diambil. Rahim yang tertinggal menempel pada segmen atas vagina, jadi memelihara fertilitas. Peserta yang pantas untuk metode ini adalah yang mempunyai kekhususan di bawah ini :

  • Subtipe histologis misalnya karsinoma sel skuamosa, adenokarsinoma, atau adenokarsinoma skuamosa (adenosquamous)
  • Tingkatan IA1 / grade 2 atau 3 dengan invasi ke ruang limfovaskular
  • Fase IA2
  • Tingkatan IB1 dengan lesi garis tengah < 2 cm
Kanker Serviks

Invasi serviks di luar serta di bawah bagian rahim perlu dibuang menggunakan MRI sebelum pembedahan. Derajat kekumatan dan mortalitas yang sama menggunakan angka pasca histerektomi radikal. Penyintas yang ditangani dengan metode ini perlu melahirkan dengan pembedahan caesar. Pasca trachelectomy radikal, derajat fertilitas sekitar mulai dari 50 hingga 70% serta derajat kekumatan berkisar 5 hingga 10%. Terapi radiasi bisa mengakibatkan komplikasi berat (contohnya proktitis serta sistitis radiasi) serta kadang kala komplikasi berikutnya (contohnya stenosis vagina, obstruksi usus, penyusunan fistula rektovaginal serta vesikovaginal).

Kemoterapi umumnya direkomendasikan berbarengan dengan terapi radiasi, umumnya untuk radiosensitisasi tumor. Walaupun kanker tingkatan IVA umumnya ditangani menggunakan terapi radiasi sebelumnya, eksenterasi panggul (pengangkatan semua organ panggul) bisa diperhitungkan. Bila pasca radioterapi kanker tetap ada namun terus terbatas pada bagian tengah panggul, disarankan eksenterasi serta mengobati sampai 40% penyintas. Metodenya bisa mencakup pengalihan urin kontinu atau non-kontinen, anastomosis ringan tanpa kolostomi atau dengan kolostomi desenden dengan bawah panggul yang melingkupi omentum (J-flap) serta rehabilitasi vagina dengan flap miokutan dari gracilis atau rektus abdominis.

Pemetaan kelenjar getah bening sentinel untuk kanker serviks

Pemetaan kelenjar getah bening sentinel adalah substitusi solusi limfadenektomi panggul pada kanker serviks tingkatan pertama (IA1 dengan invasi ruang limfovaskular atau IB1) sebab hanya 15-20% dari penyintas ini mempunyai kelenjar getah bening yang positif. Oleh sebab itu, pemetaan kelenjar getah bening sentinel menyusutkan angka limfadenektomi pelvis lengkap, yang dapat mempunyai efek samping (contohnya limfedema serta kerusakan saraf). Guna pemetaan kelenjar getah bening sentinel, pewarna biru atau teknesium 99 (Tc) diinjeksikan segera ke serviks, umumnya pada pukul 3 dan 9 pagi. Belakangan ini, indocyanine green (ICG) bisa dipakai sebagai pendeteksi dalam operasi invasif minimal atau terbuka. Sepanjang pembedahan, kelenjar getah bening sentinel dideteksi dengan pengamatan langsung pewarna biru, oleh kamera untuk mengetahui fluoresensi ICG, atau menggunakan probe gamma guna mendeteksi Tc.

Kelenjar getah bening sentinel umumnya berada di medial ke pembuluh illaka luar, di segmen perut ke pembuluh hipogastrik, atau di bagian atas ruang obturator. Ultrastaging dari seluruh kelenjar getah bening sentinel dikerjakan untuk mengamati mikrometastasis dan sel tumor yang diisolasi. Setiap node yang diwaspadai perlu dihapus apapun pemetaannya. Bila tidak terdapat pemetaan pada hemipelvis, limfadenektomi khusus sisi dikerjakan. Derajat identifikasi kelenjar getah bening sentinel lebih baik untuk tumor <2 cm.

Kriteria terapi radiasi setelah histerektomi radikal

Kriteria yang dipakai guna menetapkan apakah radioterapi panggul yang digabungkan dengan kemoterapi harus dikerjakan pasca histerektomi radikal adalah sebagai berikut (amati tabel kriteria Sedlis untuk radioterapi panggul eksternal setelah histerektomi radikal) :

  • Eksistensi invasi ruang limfovaskular

  • Kedalaman invasi

  • Bentuk tumor

Pencegahan

Uji skrining

Dua tipe uji skrining anomali serviks dipakai :

  • Uji Pap

  • Uji HPV

Uji skrining kanker serviks teratur disarankan sebagai berikut :

  • Umur 21 sampai 29 : umumnya setiap 3 tahun guna uji Pap (uji HPV biasanya tidak dianjurkan)

  • Umur 30 sampai 65: setiap 3 tahun bila hanya uji Pap yang dijalani atau setiap 5 tahun bila hanya satu uji HPV dijalani atau kedua pengujian dijalani (makin rutin pada perempuan dengan bahaya berat kanker serviks )

  • Pasca 65 tahun: tidak ada lagi tes bila hasil tes telah normal dalam 10 tahun belakangan

Uji Pap bisa mengidentifikasi displasia kecacatan atau kanker servik. Uji Pap teratur bisa menjauhkan kanker serviks pada sebagian besar perempuan. Bila perempuan itu pernah melakukan histerektomi bagi gangguan di luar kanker serta tidak memperoleh hasil uji Pap yang tidak normal, skrining tidak disarankan. (Amati pula  Panduan Skrining Kanker itu). Uji HPV merupakan prosedur evaluasi lanjutan yang disenangi bagi seluruh perempuan yang mempunyai ASCUS (sel skuamosa atipikal dengan signifikansi yang tidak bisa ditetapkan), faktor yang tidak bisa disimpulkan yang ditemukan oleh uji Pap. Uji DNA HPV bisa mendeteksi apakah terdapat tipe HPV yang bisa memicu kanker servic. Bila uji HPV menampakkan tidak terdapat HPV pada perempuan itu, skrining perlu diteruskan dengan teratur pada rentang yang dijadwalkan. Bila ada HPV, kolposkopi perlu dilaksanakan.

Vaksin HPV

Pencegahan kanker servick juga dapat dilakukan dengan vaksin. Guna menghindari kanker servick, vaksin guna mencegah tipe human papillomavirus (HPV) tertentu disarankan bagi mayoritas gadis serta perempuan belia.

Vaksin HPV penghindaran di antaranya

  • Vaksin bivalen yang melindungi subtipe 16 dan 18 (yang mengakibatkan kebanyakan kanker serviks)

  • Vaksin quadrivalent yang melindungi subtipe 16 dan 18 plus 6 dan 11

  • Vaksin 9-valen yang juga melindungi dari subtipe yang sama dengan kuadrivalen plus subtipe 31, 33, 45, 52 dan 58 (yang bertanggung jawab atas sekitar 15% kanker serviks).

Subtipe 6 serta 11 merupakan pemicu>90% kutil kelamin yang nampak. Vaksin itu bertujuan guna menjauhkan kanker serviks namun tidak menanganinya. Pada >= 15 tahun, tiga dosis direkomendasikan sepanjang 6 bulan (pada 0, 1 hingga 2 serta 6 bulan). Sebelum umur 15 tahun, dua dosis direkomendasikan dengan interval 6 hingga 12 bulan. Vaksin HPV disarankan bagi anak laki-laki serta gadis, pantasnya sebelum mereka menjadi aktif secara seksual. Standar yang dianjurkan adalah vaksinasi bagi anak laki-laki dan gadis sejak umur 11-12 tahun, namun vaksinasi bisa diinisiasi pada umur 9 tahun.

Anda bisa mereduksi ancaman menderita ca servik dengan melakukan uji pemindaian serta memperoleh vaksin yang memproteksi dari kontaminasi HPV. Di samping itu, juga ada Cryoterapi : Probe yang begitu dingin diletakkan pada cakupan yang tidak normal pada serviks. Pembekuan mematikan sel yang tidak normal, menangkalnya menjadi kanker servic. Terapi laser juga dapat digunakan, dimana sel-sel yang tidak normal dilenyapkan, menangkalnya menjadi kanker servic. Ada pula biopsi kerucut yang melenyapkan potongan membran berukuran kerucut dari kecacatan. Karena kebanyakan kecacatan itu diangkat, biopsi kerucut bisa menolong menjauhkan atau memulihkan ca serviks. Bisa pula menggunakan suatu loop kawat yang dialiri listrik. Gelombang listrik ini dapat melenyapkan sel, menjauhkan atau memulihkan ca serviks. Sementara terapi radiasi memakai tenaga radioaktif guna mematikan sel ca servik.

Poin-poin penting

  • Bangunnya kanker serviks bila hasil uji Papanicolaou (uji Pap) tidak normal, bila nampak lesi serviks atau perdarahan vagina tidak normal, terutama pasca kopulasi.

  • Jalani biopsi guna meyakinkan pemeriksaan.

  • Kelompokkan kanker serviks dengan ilmiah menurut tingkatan, dengan biopsi, diagnosa panggul, serta rontgen dada serta bila tingkatan> IB1, jalani PET / CT, MRI, atau CT untuk mendeteksi metastasis.

  • Pengobatan berupa reseksi operasi bagi kanker tingkatan pertama (umumnya tingkatan IA sampai IB1), terapi radiasi dan kemoterapi bagi kanker tingkatan serius secara lokal (umumnya tingkatan IB2 sampai IVA), serta kemoterapi bagi kanker metastatik.

  • Skrining seluruh perempuan dengan menjalani uji Pap smear dan HPV dengan rutin.

  • Sarankan vaksinasi HPV bagi anak gadis serta laki-laki.

Referensi

  1. WebMD : Picture of the Cervix : https://www.webmd.com/women/picture-of-the-cervix#1

  2. Women’sHealth : 7 Photos Of Your Cervix You Need To See :  https://www.womenshealthmag.com/health/a19977125/cervix-pictures/

  3. Clue : How to find (and feel) your cervix : https://helloclue.com/articles/cycle-a-z/how-to-find-feel-your-cervix

  4. MedicineNet : Medical Definition of Cervix : https://www.medicinenet.com/cervix/definition.htm

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *