Parestesia

Parestesia maupun paresthesia adalah julukan ilmiah tentang mati rasa. Pengertian mati rasa adalah keadaan tidak normal dimana individu merasa kesemutan serta hilangnya sensasi. Pengertian mati rasa adalah kelainan dimana sanggup terjadi di area tubuh (tangan, kaki, serta jari-jari). Mati rasa sanggup berlangsung sebentar. Pengertian mati rasa adalah gangguan dimana sanggup tidak ada respon ketika adanya sentuhan. Mati rasa sanggup diakibatkan oleh sejumlah hal, termuat saat duduk maupun berdiri terlalu lama. Parestesia adalah sebuah kelainan dimana sanggup bersifat temporer serta sanggup sembuh tanpa adanya pengobatan. Namun, bila hal ini tak kunjung berhenti, individu diwajibkan mengunjungi tim medis. Hampir setiap individu pernah menghadapi parestesia (paresthesia). 

Parestesia adalah kelainan dimana adanya saraf pusat tidak berfungsi. Paresthesia adalah gangguan dimana sanggup mengacu pada impresi terbakar maupun tertusuk yang lazimnya dirasakan oleh tangan, kaki, lengan. Paresthesia adalah gangguan yang berlangsung karena hadirnya sensasi secara tiba-tiba, individu mengalami paresthesia tanpa sadar terlebih dahulu. 

Sejumlah individu mengalami paresthesia dimana sanggup mengarah kepada kesemutan. Paresthesia kronis kadang merupakan salah satu ciri-ciri adanya penyakit saraf. Parestesia adalah kelainan dimana sanggup diakibatkan oleh gangguan yang menguasai sistem saraf pusat (stroke serta serangan iskemik transien (stroke ringan), multiple sclerosis, myelitis transversal, serta ensefalitis). 

Parestesia juga sanggup disebabkan oleh tumor maupun lesi vaskular. Terkadang gangguan parestesia tidak harus dikhawatirkan, karena sejumlah kasus dimana parestesia sanggup berlangsung di tangan tidak serius, sebab sanggup hilang dalam beberapa waktu. Tetapi sering terjadi impresi tidak normal dikarenakan hadirnya sejumlah penyakit dimana sanggup mendukung kelainan tersebut menjadi kronis. Paresthesia dimana mengarah kepada kesemutan, kesemutan awalnya disebabkan oleh postur tubuh yang tidak tepat serta adanya gangguan tubuh. Gangguan tersebut sanggup terjadi dikarenakan sering mengkonsumsi alkohol, konsumsi obat tertentu serta kurangnya nutrisi pada tubuh. 

Gejala Parestesia 

Gejala parestesia maupun sanggup dinamakan saraf terjepit, meliputi:

  • Kejang otot
  • Nyeri terbakar
  • Mati rasa
  • Gatal
  • Kulit terasa panas maupun dingin
  • Gelisah
  • Sering buang air kecil

Namun ada beberapa gejala parestesia dimana sanggup mengancam jiwa maupun sanggup dinamakan paresthesia kronis.

Gejala paresthesia dimana sanggup mengancam jiwa, meliputi:

  • Hilangnya kesadaran
  • Sesak nafas
  • Susah berjalan
  • Pusing
  • Penglihatan berubah 
  • Hilangnya kontrol kandung kemih
  • Lumpuh

Gejala parestesia sanggup bertahan lama maupun sementara, tetapi sejumlah kasus menghadapi gejala yang cukup singkat, artinya sanggup sembuh dalam beberapa waktu. 

Penyebab Parestesia

Parestesia sanggup terjadi saat hadirnya tekanan terlalu banyak. Tekanan tersebut sanggup mengakibatkan parestesia disekitar suplai oleh saraf. Parestesia maupun saraf terjepit sanggup berlangsung dimana saja (wajah, leher, lengan, tangan, serta punggung). 

Ada sejumlah penyebab parestesia, meliputi:

  • Stroke
  • Sklerosis ganda
  • Tumor (sumsum tulang belakang maupun otak)
  • Tingginya tingkat vitamin
  • Diabetes
  • Fibromyalgia
  • Tekanan darah tinggi
  • Peradangan
  • Cedera saraf
  • Saraf terjepit

Paresthesia

Faktor Risiko

Beberapa faktor meningkatkan risiko kelainan parestesia, meliputi :

  • Jenis kelamin: Wanita lebih sering menghadapi carpal tunnel syndrome, barangkali disebabkan oleh saluran saraf yang lebih sempit.
  • Obesitas: Berat badan ekstra sanggup mengakibatkan saraf terjepit
  • Kehamilan: Kehamilan sanggup mengakibatkan adanya pembengkakan serta saraf terjepit karena adanya penambahan air pada tubuh. 
  • Penyakit tiroid: Sanggup mengakibatkan individu berisiko menderita sindrom terowongan karpal.
  • Diabetes: Menderita diabetes sanggup mengakibatkan kerusakan saraf serta jaringan.
  • Arthritis rheumatoid: Mengakibatkan iritasi serta menekan saraf.
  • Tidur lama: Berbaring dalam waktu lama sanggup mengakibatkan pemadatan saraf serta meningkatkan risiko paresthesia.
  • Kerja berlebihan: Kerja berlebihan sanggup membuat anggota tubuh merasa lelah.
  • Siapa saja bisa mengalami saraf terjepit, serta sejumlah individu pernah menghadapi paresthesia pada suatu saat maupun secara tiba-tiba tanpa sadar. 

 

Diagnosa Parestesia

Dalam mendiagnosa parestesia, dokter barangkali akan menanyakan sejarah kesehatan individu serta mengajukan beberapa pertanyaan agar meringankan dokter mendeteksi gangguan tersebut. Kemudian dokter barangkali akan melakukan beberapa pengujian supaya mengetahui individu menderita gangguan parestesia serta diuji berdasarkan gejala yang dialami individu.. 

Pengujian yang barangkali dilaksanakan dokter, meliputi :

  • Studi konduksi saraf: Sanggup menaksir seberapa cepat impuls saraf berjalan di otot.
  • Elektromiografi (EMG): Sanggup melihat aktivitas kegiatan listrik bagaimana saraf serta otot berkontraksi.
  • MRI: Sanggup mendeteksi berbagai area tubuh secara detail.
  • Ultrasonografi: Sanggup memperoleh objek tubuh.

Pengobatan Parestesia

Secara lazim, kelainan parestesia tidak perlu diobati sebab sanggup pulih dengan sendiri tanpa bantuan medis. Namun di beberapa kasus parestesia perlu diobati dengan bantuan media dikarenakan adanya penyakit lain dimana sanggup mendasari kelainan tersebut. 

Beberapa perawatan dimana sanggup mengatasi parestesia, meliputi 

  • Pakai kawat gigi. Sanggup menetralkan ketegangan otot.
  • Imobilisasi jangka panjang. Sanggup menyembuhkan patah tulang leher.
  • Pengobatan. Melalui suntikan kortison, sanggup meredakan nyeri serta iritasi. 
  • Terapi fisik. Memperkuat otot.
  • Operasi. Melepaskan terowongan karpal.
  • Rehabilitasi. Menyembuhkan penggunaan alkohol.
  • Manajemen diabetes. Termuat diet, olahraga, insulin.
  • Embolisasi endovascular. Menyembuhkan malformasi arteriovenosa.
  • Konsumsi vitamin B12. Mengatasi mati rasa. 

Pencegahan

Saran praktis dalam pencegahan terjadinya kelainan parestesia, meliputi :

  • Mengurangi konsumsi alkohol
  • Konsumsi makanan sehat, rendah lemak
  • Olahraga cukup
  • Jaga berat badan
  • Seringlah tukar posisi
  • Gunakan alat pelindung bila melakukan aktivitas berat

Referensi

  1. MedicalNewToday: what is paresthesia : https://www.medicalnewstoday.com/articles/318845
  2. healthline: paresthesia : https://www.healthline.com/health/paresthesia
  3. NIH: paresthesia : https://www.ninds.nih.gov/Disorders/All-Disorders/Paresthesia-Information-Page
  4. Drugs.com: paresthesia : https://www.drugs.com/cg/paresthesia 

Mahendra Pratama

Mahendra Pratama, seorang ahli gizi berusia 52 tahun dan bekerja di Handal Dok sebagai penulis/editor. Ia lulus dari Universitas Wijaya Kusuma sekitar 25 tahun yang lalu. Dia adalah mahasiswa yang berprestasi. Mahendra sering menulis artikel tentang nutrisi atau cara menjaga kesehatan. Dia memiliki hobi - yoga.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *