Bronkiektasis

Bronkiektasis adalah trauma pada bronkus yang mencegahnya bertukar udara dengan benar. Dinding bronkus terus membesar bekas luka atau meradang. Bahkan bronkusnya dapat melorot. Bronkiektasis ditandai melalui produksi lendir dalam kuantitas besar. Bronkiektasis bukanlah penyakit monovalen. Sebaliknya, ini ialah keadaan yang diakibatkan oleh kebobrokan pada terusan bronkus dan bronkial . Segmen jalan nafas ini terletak di bagian atas dada membawa atmosfer ke peparu setelah melewati tenggorokan melintasi tenggorokan.

Namun, ada pengertian lain mengenai bronkiektasis adalah keadaan waktu lama dimana terusan atmosfer peparu meluas secara belum layak, yang mengakibatkan pengelompokan dahak kebanyakan yang bisa membentuk peparu amat lemah kepada penularan. Kecacatan bronkiektasis bisa menyebar atau hanya menyerang area kecil. Biasanya mengakibatkan bronkus berukuran sedang membesar, tetapi bronkus terkecil beresiko mengalami jaringan parut atau bahkan hancur. Dengan penjelasan yang mendasari mengenai bronkiektasis, maka mayoritas para dokter dapat memiliki makalah bronkiektasis sebagai acuan untuk langkah yang diambil dalam menghadapi korban bronkiektasis. Seringkali seorang dokter mencari dan mempelajari terlebih dahulu makalah bronkiektasis sebelum melakukan pemeriksaan terhadap korban bronkiektasis.

Penyebab bronkiektasis

Patofisiologi bronkiektasis

Karena bronkiektasis adalah kelainan yang didapat, patofisiologi bronkiektasis biasanya digambarkan sebagai fase infeksi dan peradangan kronis yang berbeda. Interaksi antara fase tersebut membentuk lingkaran setan dimana hasil akhir patofisiologi bronkiektasis  adalah kebobrokan bronkus dan ciri klinis yang menyertainya. Tahap pertama dalam perkembangan bronkiektasis adalah gangguan infektif awal pada terusan udara, yang memicu respons mukosiliar.

Mikro organisme memicu pelepasan racun dan respons peradangan di dalam saluran udara. Respon inflamasi tersebut meliputi pelepasan neutrofil, limfosit, dan makrofag dalam lumen bronkial. Maka dari itu patofisiologi bronkiektasis juga merupakan neutrofil yang mengubah fungsi epitel silia, yang menyebabkan perubahan frekuensi denyut silia dan hipersekresi kelenjar mukosa. Kedua proses tersebut membahayakan pembersihan mukosiliar. Hilangnya transpor mukosiliar ini membuat saluran udara rentan terhadap kolonisasi mikroba. Neutrofil juga dipercaya mendorong proses ini dengan memungkinkan bakteri menempel pada epitel paru. Meskipun sebagian besar orang dengan bronkiektasis telah mengganggu pembersihan mukosiliar dan produksi dahak yang berlebihan, tidak semua pasien berkelanjutan dikolonisasi oleh bakteri. Kolonisasi bakteri dan penanda peradangan pada dahak bersifat intermiten pada kebanyakan orang.

Diagnosa bronkiektasis

Terkadang dokter mencurigai adanya penyakit bronkiektasis pada pasien biasanya dengan melihat ciri yang nampak. Bronkiektasis adalah keadaan yang kurang terdiagnosa. Jika dicurigai, dokter pertama-tama akan meminta riwayat keluarga dan pengujian darah terperinci guna menentukan apakah pasien mungkin mempunyai keadaan mendasar yang bisa mengakibatkan bronkiektasis. Pengujian darah ini pula bisa memberi tahu dokter bila mempunyai tingkat sel darah yang memberontak penularan yang kecil.

Karena bronkiektasis merupakan kecacatan peparu, dokter biasanya pula ingin melakukan pengujian kegunaan peparu korban. Dokter akan mulai mendengarkan peparu guna meneliti penyumbatan dan kelainan. Pengujian kegunaan peparu bisa menentukan diagnosa bronkiektasis, kultur lendir juga bisa memberitahu mengenai bakteri yang terdapat di dalam peparu.

Penyebab bronkiektasis

Bronkiektasis memanifestasikan dalam berbagai cara, karena diakibatkan oleh bermacam kekacauan yang masing-masing menyerbu selaput bronkus sehingga mengacaukan penyusunan perlindungannya. Penyebab bronkiektasis didapat oleh banyak kondisi medis. Penyebab bronkiektasis yang amat kerap ialah infeksi kronis yang mengulang. Penularan tersebut seringkali didapati dari gangguan pada penyusunan imunitas, cacat lahir yang mempengaruhi struktur atau fungsi terusan udara dan berkontribusi pada penyumbatannya. Berbagai masalah terjadi akibat menghirup zat beracun yang mengakibatkan keburukan pada bronkus.

Beberapa penularan yang bisa mengakibatkan bronkiektasis :

Penularan terusan pernafasan

  • Batuk rejan
  • Campak
  • Influenza
  • Tuberkulosis
  • Penularan wabah
  • Penularan kuman
  • Penularan cendawan

Obstruksi terusan nafas

  • Neoplasma peparu
  • Kelenjar limfatik menggembung
  • Menghirup barang aneh
  • Lendir

Penyakit keturunan

  • Fibrosis kistik
  • Ciliary dyskinesia

Masalah kekebalan

  • Sindrom defisiensi imun
  • Kelainan sel darah putih
  • Penyakit autoimun atau hiperimun

Cedera inhalasi

  • Menghisap asap, gas atau molekul berbahaya
  • Menghisap asupan atau maag

Biasanya, lapisan bronkus memuat jaringan yang mengayomi terusan atmosfer dan peparu dari unsur beresiko. Beberapa dari jaringan tersebut menghasilkan dahak untuk menjebak benda asing dan lainnya mengeluarkan lendir dari terusan hawa. Pada bronkiektasis, lapisan bronkus menjadi meradang kronis atau hancur. Jika ini terbentuk, sel-sel yang mengeluarkan lendir akan rusak atau mati. Dahak kemudian membentuk endapan dan bisa mengakibatkan sangat kebanyakan kerusakan pada lapisan bronkus dan menyebarkan penularan

Gejala bronkiektasis

Orang dengan bronkiektasis biasanya batuk kronis dan produktif. Bronkiektasis bisa mengembang kapan saja dalam hidup. Biasanya dimulai pada anak usia dini, meskipun gejala bronkiektasis bisa muncul kemudian. Bronkiektasis sering muncul setelah infeksi bronkial dan memburuk selama bertahun-tahun. Kebanyakan orang mengalami batuk kronis yang membebaskan sekresi dari peparu yang disebut dahak.

Beberapa gejala umum bronkiektasis :

  • Batuk berdahak atau darah
  • Menggigil atau peluh malam
  • Kecapekan
  • Kemerosotan bobot tubuh
  • Nyeri dada
  • Selaput lebih tebal di dasar cakar jemari tangan dan paha
  • Desah atau suara siulan saat bernapas
  • Penularan terusan pernapasan yang sering

Pengobatan bronkiektasis

Bronkiektasis belum bisa dipulihkan, tetapi dapat dikelola. Dokter mungkin meresepkan obat, penggunaan alat tertentu, atau kombinasi dari metode ini dan mungkin lainnya. Jika bronkiektasis disebabkan oleh kondisi yang mendasari, seperti aspergillosis atau penyakit sistem kekebalan, maka kondisi tersebut harus ditangani terlebih dahulu.

Pilihan pengobatan bronkiektasis :

  • Antibiotik, obat yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri
  • Makrolida, obat yang digunakan untuk mengobati infeksi dan radang pada saat bersamaan
  • Obat yang mempengaruhi lendir dan membantu mengeluarkan lendir

Perawatan bronkiektasis mungkin termasuk :

Alat pembersih jalan nafas untuk memecah lendir dan membantu mengeluarkannya

  • Perangkat tekanan ekspirasi positif yang dapat dipegang
  • Perangkat perkusi yang bisa dipakai
  • Terapi fisik bergerak seperti tepuk dada untuk membantu mengeluarkan lendir dari tubuh

Beberapa dokter terkadang melakukan pemeriksaan berupa bronkiektasis radiologi, dimana dilakukan foto rontgen bronkiektasis diterapkan pada pasien. Foto rontgen bronkiektasis biasanya tidak normal tetapi tidak memadai dalam melakukan pengobatan atau menghitung bronkiektasis. Hanya sebagian rumah sakit yang menggunakan sistem bronkiektasis radiologi. Namun kebanyakan pasien dengan kondisi bronkiektasis yang parah yang akan melakukan rontgen bronkiektasis guna mendeteksi akurat. semua penyusunan dan tahapan pengobatan sesuai dengan petunjuk dari dokter dan menentukan rumah sakit yang mempunyai fasilitas guna melakukan rontgen bronkiektasis dengan cara bronkiektasis radiologi.

Referensi 

  1. NHS : Bronchiectasis : https://www.nhs.uk/conditions/bronchiectasis/
  2. Bronchiectasis Toolbox : Pathophysiology : https://bronchiectasis.com.au/
  3. American Lung Association : Bronchiectasis Symptoms and Diagnosis : https://www.lung.org/lung-health-diseases/lung-disease-lookup/bronchiectasis/symptoms-diagnosis
  4. WebMD : Bronchiectasis : https://www.webmd.com/lung/what-is-bronchiectasis
  5. Cleveland Clinic : Bronchiectasis: Management and Treatment : https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21144-bronchiectasis/management-and-treatment
  6. Radiopaedia : Bronchiectasis : https://radiopaedia.org/articles/bronchiectasis

Mahendra Pratama

Mahendra Pratama, seorang ahli gizi berusia 52 tahun dan bekerja di Handal Dok sebagai penulis/editor. Ia lulus dari Universitas Wijaya Kusuma sekitar 25 tahun yang lalu. Dia adalah mahasiswa yang berprestasi. Mahendra sering menulis artikel tentang nutrisi atau cara menjaga kesehatan. Dia memiliki hobi - yoga.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *