Penyakit Pott

Patologi kontaminasi pada reumatologi, misalnya gangguan Lyme, membutuhkan penanganan serta pengamatan yang begitu khusus. TB tulang sebagai sebuah penyakit telah dikenal sejak dahulu kala. TB tulang dijabarkan sejak 1000 hingga 600 sebelum masehi pada makalah kedokteran India kuno. Di warsa 1779, Sir Percival Pott menjelaskan TB tulang dengan pendekatan medis diikuti deformitas kifotik serta penurunan neurologis pada penderita di Eropa. Lalu sepanjang abad ke-19 serta ke-20, pengembangan vaksin serta langkah operasi sudah begitu memperbaiki penanganan penyakit TBC tulang serta menyumbangkan proteksi yang jauh lebih baik akan penyakit TBC tulang yang mendegradasi ini. 

TBC tulang akhir-akhir ini menampakkan keseriusan yang tajam di negara maju sebab migrasi global. Perkembangan penyakit TBC tulang ini menjadi tantangan serius untuk masyarakat dunia. Beserta dengan kejadian ini, macam mikroba TBC tulang yang resisten terhadap obat sudah bertambah di negara dunia ketiga sepanjang sejumlah dasawarsa belakangan. Sebab dasar ini, penyakit TBC tulang selalu muncul sebagai ancaman kesehatan komunitas dunia yang primer sampai sekarang. Menambah keilmuan mengenai TBC tulang dengan menggali etiologi, epidemiologi, presentasi, evaluasi serta penanganan TBC tulang begitu krusial bagi masa depan. Kegiatan ini fokus pada signifikansi untuk menemukan serta menangani TB tulang bagi perbaikan hasil untuk penderita. 

Patogen yang melandasi penyakit tibi tulang yaitu mycobacterium genus kompleks. Bakteri penyakit tibi tulang bisa tetap tidak aktif dalam masa yang panjang, tapi saat keadaan memungkinkan lagi, bakteri penyakit tibi tulang cenderung bertambah banyak setiap 15 hingga 20 jam sekali. Kontaminasi penyakit tibi tulang mengakibatkan reaksi inflamasi granulomatosa, yang umumnya dicirikan dengan nekrosis kaseosa, limfosit, sel epiteloid serta sel raksasa jenis Langhans. WHO mencatat fenomena 10,4 juta kejadian baru trabekula tulang di tahun 2016, diantaranya 46,5% kejadian tercatat dari regional Asia Tenggara saja. India menyumbang 23% kasus tuberkulosis tulang dunia. Pertambahan kejadian migrasi dunia sudah menyumbang pada pertambahan kembali tuberkulosis tulang akhir-akhir ini bahkan di negara maju.

Tuberkulosis : 3 Variasi manifestasi

Tuberkulosis adalah penyakit menjangkit yang umumnya menyerang paru-paru, tapi bisa melebar ke seluruh tubuh misalnya tulang, kelenjar getah bening serta ginjal. Penyakit ini memerlukan penanganan sepanjang sejumlah bulan. Mikroba yang berperan pada tuberkulosis yaitu basil Koch. Terdapat 3 manifestasi tuberkulosis : tuberkulosis paru, tuberkulosis ekstra paru serta tuberkulosis diseminata.

Penyakit Pott : Manifestasi tuberkulosis ekstra-paru

Oleh sebab itu, gangguan Pott adalah manifestasi tuberkulosis ekstra-paru yang berkaitan dengan serangan tuberkulosis pada tulang belakang. Gangguan Pott merupakan spondylodiscitis sebab berupa kontaminasi yang berada di tulang belakang serta cakram. Kejadian TB luar paru yaitu 3%, diantaranya 10% kejadian merupakan trabekula tulang. Kejadian TBC tulang belakang adalah 50% dari kontaminasi trabekula tulang. TBC tulang belakang umumnya sekunder sebab meluasnya hematogen dari wilayah kontaminasi utama (paling umum paru-paru). 

Gangguan Pott memberikan kira-kira 50% dari bentuk tuberkulosis osteoartikuler. Saat basil Koch menjangkau tulang belakang, hal tersebut mengakibatkan bengkak dingin tercipta di sekeliling tulang belakang yang terserang. Bengkak ini memerlukan masa sejumlah pekan guna berkembang serta memunculkan indikasi.

Mengapa harus didukung dengan baik jika terjadi masalah kesehatan?

  • Pada 45% kejadian, pengamatan atau penanganan klinis bisa dimaksimalkan 
  • 9 dari 10 dokter sudah menganjurkan tindakan yang tidak bisa disahkan : tindakan operasi, diagnosa, penggandaan, praktek buruk.
  • Tidak banyak fasilitas kesehatan atau pusat penanganan dibuat sama. Beberapa dari fasilitas tersebut lebih atau kurang menyesuaikan dengan keluhan Anda.
  • Ranah medis menjadi lebih terpusat. Kadang-kadang sukar guna memperoleh informasi yang bisa dipercaya serta mendapatkan dokter yang sesuai bagi keperluan Anda.

Gejala Penyakit Pott 

Gejala TBC tulang beragam. Gejala TBC tulang berkaitan dengan lamanya gangguan, derajat keseriusan, wilayah nyeri serta terdapat komplikasi yang berhubungan diantaranya deformitas serta defisit neurologis. Pada gangguan tanpa komplikasi, gejala TBC tulang umumnya nyeri punggung, sementara gejala TBC tulang yang berhubungan dengan TBC tulang belakang yang kompleks menyertakan deformitas, ketidakstabilan serta defisit saraf. Pada deformitas yang merupakan gejala TB tulang, peran yang lebih besar dari tulang belakang anterior pada TBC tulang belakang, tulang belakang dengan progresif menumbuhkan orientasi kifotik khususnya pada tulang belakang torak serta torakolumbal. 

Sementara gejala TB tulang yang berupa defisit neurologis bisa muncul baik pada fase aktif penyakit TB tulang atau sepanjang fase penyembuhan. Pemampatan dini pada penyakit TB tulang merupakan sekunder dari kolaps tubuh vertebral. Sakit punggung pada tuberkulosis tulang bisa dihubungkan dengan trabekula tulang aktif itu sendiri (sekunder abses), degradasi tulang serta ketidakstabilan. Sisa nyeri bersifat patognomonik serta langka, nyeri radikuler dapat menjadi gejala TB tulang primer yang timbul. Gejala TB tulang diantaranya berkurangnya berat badan atau selera makan, demam serta kecapean lebih jarang dihubungkan dengan tuberkulosis tulang daripada penyakit paru. 

Gejala timbul sejumlah pekan sehabis pembengkakan tercipta :

  • Keadaan normal penderita berganti dengan kecapean serta pengurangan berat badan yang tidak bisa dijabarkan
  • 90% penderita mengalami nyeri tulang belakang pada engsel dorsolumbar
  • Kekakuan segmen tulang belakang 

Pott's Disease

Penyebab Penyakit Pott 

Sejumlah aspek penyebab TB tulang diantaranya paparan yang yang terus-menerus pada penderita yang terkontaminasi, penurunan kekebalan (HIV, alkohol, penyalahgunaan obat), gizi buruk, kemiskinan serta keadaan sosial ekonomi yang minim.

Pengobatan Penyakit Pott 

Bagi kejadian tuberkulosis, biasanya penderita mendapat pengobatan anti tuberkulosis sepanjang 9 bulan.

Diagnosa Penyakit Pott

Patokan emas dalam mendiagnosa penyakit TB tulang yaitu kultur Mikobakterium, tapi basil penyakit TB tulang begitu rewel serta ketergantungan tunggal pada kultur positif guna mendiagnosa bisa dihubungkan dengan kepekaan yang buruk. Dokter akan mengamati secara teliti guna menemukan ciri-ciri misalnya nyeri punggung, kaku ketika bergerak serta ciri-ciri kontaminasi.

Di samping pengamatan fisik, dokter melakukan pengamatan lain :

  • Uji darah, pengamatan dahak, rontgen serta MRI. Rontgen serta MRI memungkinkan guna menilai separah apa bengkak dingin dan akibatnya pada tulang serta saraf. Biopsi cakram tulang belakang merupakan pengamatan yang paling tepat guna guna memeriksa penyakit. 
  • Pemeriksaan CT Scan bisa juga akan dianjurkan guna menemukan wilayah abses dalam merespon serangan dari basil tuberkel.

Dokter pun akan tertarik dengan keadaan normal penderita guna mendapatkan pemicu yang bisa melemahkan pasien guna menyebarkan kontaminasi : kemungkinan gula darah, gagal ginjal, HIV pemakaian tembakau atau alkohol, pemakaian obat-obatan serta berkurangnya Imunitas.

Guna mencegah penyimpangan manifestasi sebab keropos tulang belakang sebab kontaminasi, penderita akan dimobilisasi menggunakan korset. Penderita pun wajib istirahat di tempat tidur yang disiplin di fase dini perawatan. Operasi bisa dibutuhkan guna menangani bengkak atau bila terdapat kompresi saraf. Penderita pun perlu istirahat di tempat tidur yang disiplin.

Referensi 

  1. NCBI : Pott Disease ; https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK538331/
  2. Medscape : Pott Disease (Tuberculous [TB] Spondylitis) ;https://emedicine.medscape.com/article/226141-overview
  3. Physiopedia : Pott’s Disease :https://www.physio-pedia.com/Pott%27s_Disease

Mahendra Pratama

Mahendra Pratama, seorang ahli gizi berusia 52 tahun dan bekerja di Handal Dok sebagai penulis/editor. Ia lulus dari Universitas Wijaya Kusuma sekitar 25 tahun yang lalu. Dia adalah mahasiswa yang berprestasi. Mahendra sering menulis artikel tentang nutrisi atau cara menjaga kesehatan. Dia memiliki hobi - yoga.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *