Keracunan Makanan

Keracunan makanan merupakan suatu infeksi pada perut yang diakibatkan dari menelan makanan atau minuman terkontaminasi. Kondisi yang ditimbulkan akibat keracunan makanan kebanyakan berlangsung ringan, akan tetapi dapat pula berkembang ke arah komplikasi yang fatal. Makanan dan minuman terkontaminasi yang kemudian menjadi penyebab keracunan makanan adalah makanan dan minuman yang sudah tercampur bakteri, virus, maupun parasit. Sebagian besar, keracunan makanan berlangsung sesudah memakan makanan segar tanpa dicuci terlebih dahulu, makanan yang pencuciannya menggunakan air terkontaminasi, makanan yang pengawetannya tidak layak, atau makanan yang memasaknya kurang matang.

Keracunan makanan merupakan pemicu utama gastroenteritis. Apabila infeksinya bersumber dari makanan yang terkontaminasi, maka dinamakan keracunan makanan. Keracunan makanan bisa mengenai semua orang, tetapi terdapat beberapa kelompok yang lebih rentan sebab daya tahan tubuhnya tidak terlalu kuat, misalnya kelompok berusia 65 tahun ke atas, anak-anak sebelum usia 5 tahun, orang dengan kondisi kesehatan yang buruk sehingga sistem kekebalannya melemah, serta wanita hamil.

Penyebab Keracunan Makanan

Penyebab keracunan makanan kebanyakan dipicu oleh terjadinya infeksi. Berbagai macam infeksi yang bisa mengakibatkan keracunan makanan, yakni:

  • Infeksi bakteri, proses infeksinya bisa diakibatkan oleh bakteri itu sendiri atau oleh racun yang diproduksinya. Biasanya keracunan makanan yang disebabkan infeksi bakteri terjadi setelah meminum air yang kotor atau memakan makanan yang kurang matang. Bakteri yang berperan dalam proses keracunan makanan ini termasuk bakteri Salmonella, E- coli, Staphylococcus, Campylobacter, dan Clostridium.
  • Infeksi virus, kebanyakan infeksi ini terjadi akibat norovirus yang mempengaruhi produk pertanian dan kelautan. Norovirus merupakan virus penyebab diare. Infeksi akan berlangsung apabila produk tersebut bersinggungan dengan air yang terkontaminasi atau bahan makanan dimakan mentah atau kurang matang.
  • Infeksi parasit, biasanya disebabkan karena Giardia intestinalis yang sering berada pada buah-buahan dan sayuran segar serta dalam air.
  • Infeksi jamur, infeksi terjadi akibat jamur yang mengandung racun muskarinik. Racun tersebut dapat menyerang sistem saraf, sehingga berpotensi menimbulkan masalah yang serius bahkan fatal bagi orang yang terinfeksi.
  • Infeksi ikan atau makanan laut, beberapa ikan atau makanan laut memiliki racun atau menjadi beracun setelah menelan mikroorganisme air dari famili dinoflagellata. 
  • Infeksi insektisida, insektisida yang digunakan oleh manusia untuk membasmi serangga mengandung gas beracun organofosfat. Gas beracun ini apabila tertelan oleh manusia sendiri akan mengakibatkan kerusakan saraf yang bisa berujung pada kematian.

Food poisoning

Gejala Keracunan Makanan

Keracunan makanan mempunyai dampak peradangan pada organ pencernaan sehingga memicu timbulnya gejala yang terdiri dari mual, muntah, sakit perut, serta diare. Komplikasi utama dari keracunan makanan ialah dehidrasi dan berbagai gangguan lainnya yang disebabkan kehilangan air dan elektrolit secara signifikan. Dari gejala keracunan makanan yang banyak terjadi itu, kadang juga dapat diikuti dengan ciri-ciri keracunan makanan yang lain misalkan demam dan sakit kepala. Gejala keracunan makanan tersebut kemungkinan dirasakan salah satu saja atau serentak, dan biasanya muncul secara mendadak.

Infeksi yang berlangsung dapat pula mencapai sistem saraf pusat, yang selanjutnya akan mengarah pada gangguan bicara, gangguan penglihatan, kesulitan bernapas, hingga kelumpuhan otot. Infeksi yang ditimbulkan karena bakteri Campylobacter dapat mengarah pada penyakit meningitis, infeksi saluran kemih, dan artritis. Pada kasus keracunan makanan yang ekstrim dan kejadiannya jarang, keracunan makanan bisa mengakibatkan kelumpuhan dan kematian.

Selain ciri-ciri keracunan makanan yang meliputi mual, muntah, sakit perut, dan diare, terdapat ciri-ciri keracunan makanan lain yang lebih gawat. Gejala keracunan makanan yang gawat di antaranya demam tinggi, mengeluarkan feses berdarah, muntah yang begitu sering, diare yang berlangsung melebihi tiga hari, sampai dehidrasi berat. Apabila mendapat gejala keracunan makanan yang gawat, penderita disarankan agar segera menemui dokter.

Diagnosis Keracunan Makanan

Diagnosis keracunan makanan didasarkan pada riwayat kesehatan penderita secara detail, yang terdiri dari waktu terjadinya, gejala yang dirasakan, dan makanan yang sudah dikonsumsi. Pemeriksaan fisik biasanya dilakukan untuk mendeteksi apakah penderita mengalami dehidrasi. Setelah itu, kemungkinan dokter akan meminta penderita untuk menjalani pemeriksaan yang meliputi tes darah, kultur tinja, atau pemeriksaan parasit untuk mencari tahu penyebab keracunan makanan. 

Pengobatan Keracunan Makanan

Durasi terjadinya keracunan makanan pada seseorang tergantung dari penyebab keracunan makanan dan kondisi tubuh penderita. Tetapi, secara umum keracunan makanan akan terjadi selama 1 sampai 3 hari. Dalam rentang waktu satu minggu, seseorang yang terinfeksi dan mengalami keracunan makanan dapat disembuhkan tanpa perawatan obat secara khusus. Penderita hanya perlu bersabar serta menunggu perut untuk tenang dan kembali pada kondisi seperti semula. Karena itu, penderita disarankan untuk menghindari makanan padat, dan sebisa mungkin minum air sedikit demi sedikit untuk menjaga hidrasi tubuh.

Jika penderita mendapat dehidrasi yang terlalu parah, patut dipertimbangkan untuk rawat inap di rumah sakit agar penderita kembali terhidrasi dan mendapat asupan makanan melalui intravena. Dalam kasus keracunan makanan yang infeksinya mencapai sistem saraf pusat, maka diperlukan pengobatan secara khusus, seperti pemberian atropin yang merupakan antispasmodik untuk melawan efek muskarinik dari jamur. Pada kasus keracunan makanan yang lebih parah lagi, prosedur bilas lambung (lavage lambung) harus dilakukan guna menghilangkan semua jejak material berbahaya dan patogen dari dalam perut.

Pencegahan Keracunan Makanan

Dalam rangka mencegah terkena keracunan makanan, hal yang perlu diperhatikan adalah  persiapan saat akan memasak makanan. Cuci tangan terlebih dahulu sampai bersih sebelum mulai memasak. Pastikan pula lingkungan tempat memasak serta peralatan memasak sudah dibersihkan. Pisahkan makanan yang sudah matang dengan makanan yang masih mentah. Gunakan alat-alat secara terpisah pada masing-masing bahan makanan. Gunakan suhu yang tepat saat memasak, agar bakteri-bakteri berbahaya dapat terbunuh. Saat memasak daging pastikan agar tidak lagi berwarna merah muda. Apabila sedang sakit diare (gastroenteritis), hindari memasak untuk keluarga. Bagi individu yang rentan atau berisiko tinggi terkena keracunan makanan, maka sebaiknya tidak memakan makanan yang mentah atau kurang matang (misalkan daging dan makanan laut), kecambah mentah atau dimasak sebentar, serta susu tanpa dipasteurisasi.

Referensi 

  1. Medicine Net : Food Poisoning Symptoms, Types, Causes, and Treatment : https://www.medicinenet.com/food_poisoning/article.htm
  2. MedicalNewsToday : All about food poisoning : https://www.medicalnewstoday.com/articles/154555#treatment
  3. Centers for Disease Control and Prevention : Key Facts About Food Poisoning : https://www.cdc.gov/foodsafety/food-poisoning.html
  4. Mayo Clinic : Food poisoning : https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/food-poisoning/diagnosis-treatment/drc-20356236

Mahendra Pratama

Mahendra Pratama, seorang ahli gizi berusia 52 tahun dan bekerja di Handal Dok sebagai penulis/editor. Ia lulus dari Universitas Wijaya Kusuma sekitar 25 tahun yang lalu. Dia adalah mahasiswa yang berprestasi. Mahendra sering menulis artikel tentang nutrisi atau cara menjaga kesehatan. Dia memiliki hobi - yoga.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *